Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Januari 2012

Jalan Buntu

dogma-dogma berarak petak-petak
alamatkan jejak kepada bijak dan sesak pekak
ketika sebagian muak menatap sesat nampak
dengan mata terbelalak
sang empu benamkan suluh
pada warna tertentu; semuanya hitam

riak-riak penasaran, mengapa tepian tak juga terkalahkan
terjungkal dan terjungkal lagi sebagai pecundang
lalu bertapa, rawa tawa tak merah cerah
suruh ceruk mantra tergali
bulat-bulat mati melingkar
mengitari ujung tempat kuku-kuku
keduanya adu beradu
satu persatu menitipkan tuah ;
satu belati siap membunuh apa-siapa saja
jabang angkuh terlahir sebagai pramusaji hidangkan janji
wajah para arwah meraut jadilah seribu topeng
penuh kasih penuh cinta
tenggelam di irama desah
paksa peluh luruh bersama tusukan buluh
 
walau tak selalu
jalan ini berakhir di tempat itu

Jember, 2007

Senin, 25 April 2011

Riwayatmu Kini

“Musim kemarau tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh”
*

Di tanah airmu, air mengalir di tanahmu. Menderas, jauh dari hulu dalam dirimu.
Kemudian bermuara dalam sebuah abad. Yang tak akan pernah sanggup menampung,
harmoni yang tak akan pernah rampung.

Musim tiba-tiba berhenti, riak sungai pun usai

Melihat abad di belakangmu, renta lapar dan tubuh sabarmu melepuh. Letih kemudian
pudar. Di bawah kibar langit, engkau telah bersetia menunggu kabar. Pertemuan terbesar,
saat-saat paling akbar; pusar kehidupan.

Ooo, aku hanyut dalam irama tembangmu

Di lingkar abad ini, salamku kepada semesta, tuhan menyaksikan; renggutlah tubuh yang
menyusunku, dan waktu yang mencatatku. Tapi setidaknya, pejuang itu, buatkan makam
di kerut jidatku, dan di garis tanganku, epitafnya tertanam.

Selamat jalan Gesang

* Salah satu bait lirik "Bengawan Solo" karya Gesang
Foto: dakdem.com

Catatan Seorang Penyaksi 3

di selatan barat utara timur
sepanjang pandang tak lamur
dan tegak tubuh belumlah uzur
sejengkal langkah mundur tuntas diharamkan
hingga kemudian
matanya mengarah ke delapan penjuru arah angin
menangkap apapun, bahkan yang tak kasat sekalipun;
di pusat keramaian, pasar becek berlendir
pusar perempuan juga transaksi kemaluan
dia melihat
di titik nadir, saat khayalan diajak terbang layang;
etika dan norma tunduk pada barisan angka congkak
dia melihat
ketika kepandiran ditorehkan, berliter-liter perasan dosa dituangkan
selanjutnya sampah dari segala sampah mewajah
dia melihat
dan ketika yang ada hanya pembiaran
manusia-manusia malang kian terlupakan
inilah jalan yang terus terkupas
atau takdir memang harus dirubah!

di barat utara timur selatan
kebenaran ditundukkan bualan-bualan
kata-kata menggambarkan keindahan
sedang kepiluan semakin tak terbantahkan
telinganya  serupa gagang mikrofon di tangan demonstran
terbuka lebar-lebar menampung segala kebisuan;
saat keyakinan diruntuhkan
dan ayat-ayat suci dijual-gadaikan
dia mendengar
ketika tuhan diseret-seret kesana kemari
dan ketimpangan sebatas diperbincangkan di sana sini
dia mendengar
ketika petunjuk setan disakralkan
demi halal yang haram dan haram yang halal
dia mendengar
inilah jalan yang terus terkupas
atau takdir memang harus dirubah!

timur selatan barat utara
baik dan buruk pergi jauh ke dalam diri
harapan-harapan terbang tinggi ke ujung langit
hanya kaki menginjak bumi sanggup merasakan
di pesta keheningan, jalanan sedang lengang;
seorang ibu murung mendekap bayinya yang hampir dingin
dia merasakan
ketika perut-perut meronta, lapar merajalela
manusia-manusia dijajah dari kemerdekaannya
dia merasakan
ketika julur tangan berjuntai, belas kasih diharapkan
hanya jijik dan kesombongan dimuntahkan
dia merasakan
ketika tangis tak terseka, wajah alam sedang murka
detak kehidupan terhenti, nyawa tersia-sia
dia merasakan
inilah jalan yang terus terkupas
atau takdir memang harus dirubah!

utara timur selatan barat
ketika timpang kaki kekuasaan, kumat bejat pejabat bangsat
terkubur dalam-dalam adab dan martabat
dia mengendusnya
ketika ketiak penguasa menebarkan bau dusta
meenggenapi serakah membabi buta
dia mengendusnya
ketika kebodohan massal diciptakan
konspirasi busuk diam-diam digencarkan
dia mengendusnya
ketika istana-istana dibangun dengan peluh jutaan umat
sementara tubuh-tubuh ceking mencium bau sekarat
dia mengendusnya
inilah jalan yang terus terkupas
atau takdir memang harus dirubah!

sebelum tuntas segala pandang
segala dengar segala endusan
segala rasa segala kesaksian
dia telah berkirim surat kepada semesta
mengabarkan segala ketidakseimbangan
kemudian tanpa dendam
dia memberanikan diri merengek kepada tuhan
cinta sekaligus murka segera diturunkan!

Jember, 2010

Catatan Seorang Penyaksi

kepada engkau siapa saja:

saksikan tubuh yang terus mencatat ini
yang senyap, tunduk di mata merahmu
koyak bajunya hingga benar telanjang
gelarlah segala serakah segala amarah
hinga busuknya terendus
kehidung yang paling tersembunyi

atau, seret dia kepada tuhan
ke meja yang paling adil sekalipun
yang paling angkuh, dia tak akan mengeluh

jika puasmu belum tuntas
kaupun berhak melihat darahnya
yang coklatnya ditajamkan penat
hingga di anyirnya, tak kau dapat
warna merah seperti sebelumnya

hanya saja
setiap peluh yang terlanjur basah
sejarah, tak kuasa kau bantah

Catatan Seorang Penyaksi 2

Tak pandai bicara, laki-laki itu lebih suka diam
dia lebih pandai ketika mendengar

ketika sebagian isi kepalanya tumpah di layar komputer
dan sebagian lainnya tertindih kaki kekuasaan
seluruh dirinya telah dia ikhlaskan
pada setiap tusukan tajam jarum jam


Jember, 12 Juni 2010

Sabtu, 23 April 2011

Tiga Waktu

Tentang yang telah berlalu.

Sekali lagi, datanglah kepadaku, dekat. Kita susun mukjizat di sepenuh malam pekat. Menganyam cecer mozaik kita, hingga takdir benar-benar lengkap. Atau jika tak bisa, teriakkan padaku, perihal rindu dan ihwal ingin bertemu; tanpa siasat.

Kita kemasi cahaya bulan malam ini.

Catat seluruh harap dan ingatmu ke tubuhku, kasat. Selesainya, rapal ke telingaku, dekat. Lalu di seluruhku, catat dan rapalmu berkeriap-beralamat-resap; perempuanku. Hingga pada yang mungkin, kita tak ragu untuk yakin.

Mata airku, mata batin dan darahku.

Seusai benih yang telah kutebar sempurna, berlakulah seperti awan-dingin-hujan; ooo sayangku. Menyingkirlah dari gejolak dunia, rakus nafsu hidup kita. Hingga pohon itu tumbuh subur. Menjadi separuh aku, separuh engkau.