Tampilkan postingan dengan label Sisi Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisi Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 November 2012

‘Profesor’ Organik


            Desa harus jadi kekuatan ekonomi. Agar warganya tak hijrah ke kota. Sepinya desa adalah modal utama, untuk bekerja dan mengembangkan diri,” lirik lagu Iwan Fals berjudul ‘Desa’ ini cukup tepat menggambarkan sosok dan kontribusi Buharto. Dari desa tempat kelahirannya, Buharto mampu menghasilkan karya-karya yang kini bahkan mendunia.
            Lahir di desa Karang Melok, Tamanan, Bondowoso pada 9 September 1971, Buharto sejak kecil sudah mengakrabi sepinya pedesaan. Sejak masih bocah pula, Buharto juga sudah bergelut dengan pertanian yang menjadi mayoritas pekerjaan masyarakat di desanya itu. Pertanian seakan menjadi garis hidup yang diberikan Tuhan untuknya.
            Lulus dari MAN 01 Bondowoso pada 1990, Buharto langsung terjun pada sektor pertanian. Menggarap lahan di sawah. Pada waktu itu masih konvensional. Tak ada yang berbeda dengan petani-petani lainnya. Dalam soal pupuk, misalnya, Buharto juga masih menggunakan pupuk kimia.
            Tapi pada perjalanannya, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang justru menyadarkannya. “Awalnya saya merasa tergugah. Masak tidak bisa cari solusi untuk petani agar biaya produksi murah,” kenangnya. Ketergantungan dengan pupuk kimia memang cukup mencekik para petani.
“Orang kuno dulu tidak pakai pupuk kimia tapi bisa. Kalau sekarang dicoba lagi mungkin juga bisa,” pikirnya waktu itu. Pada medio 2004, Buharto mulai berusaha merealisasikan ide-idenya itu. Dia memutuskan untuk konsern terhadap pengembangan pupuk organik. Pupuk yang tidak semahal pupuk kimia tentunya.
            Eksperimen untuk menciptakan pupuk organik itu dia lakukan hingga tahun 2006. Dalam rentang waktu tersebut, semuanya tidak berjalan mulus. Saat melawan arus itu, banyak kekecewaan yang dia cecapi. Berbagai kegagalan-kegagalan harus dia hadapi pada pilihan yang tak lazim waktu itu.
            “Pada 2005, saya menanam terong justru gosong. Buahnya runtuh semua,” kenangnya saat bereksperimen menggunakan pupuk organik pada lahan terongnya. Pada pertengahan 2005 itu, Buharto nyaris putus asa. Apalagi, cercaan dan cibiran yang meremehkan eksperimennya itu kerap dia dengar. Bahkan Buharto sudah sering dicap sebagai orang ‘gila’. Buharto banyak mengorbankan waktu, tenaga dan materi untuk keyakinannya itu.
            Cap gila kian menjadi-jadi saat Buharto menanam ratusan bunga di halaman rumahnya untuk eksperimen pupuk organik. “Orang-orang tahu saya tidak suka bunga. Tapi untuk eksperimen, halaman rumah saya penuh dengan bunga. Makanya saya dianggap gila,” ujarnya. Namun semua cibiran itu justru membuatnya semakin yakin bahwa usahanya akan menemui hasil.
            Terbukti, pada akhir 2006, Buharto memberikan bukti bahwa pilihannya tidak salah. Tanaman padi di sawahnya mampu menghasilkan sebanyak 10 ton gabah per hektar setelah menggunakan pupuk bokasi organik. Angka yang jauh lebih besar dibanding lahan lain yang menggunakan pupuk kimia. Buharto pun kian semangat.
            Kegigihan Buharto mulai tercium oleh pemerintah. Dia pun mendapatkan bantuan mesin choper agar produksi pupuknya kian meningkat. Tak hanya pupuk Bokasi, rentang waktu 2009 hingga 2010, Buharto mulai menciptakan formulasi untuk agen hayati, pertisida nabati, prebiotik hingga probitik organik.
            Buharto memang tak memiliki pendidikan tinggi. Namun predikat ‘profesor’ layak ditabalkan padanya. Itu karena Buharto berhasil menciptakan formulasi-formulasi untuk pertanian organik yang kini banyak diakui. Kini, Buharto berhasil membuat produk pupuk organik cair yang dipakai di banyak daerah di Indonesia. Mulai perkebunan cengkeh di Bali, perkebunan Jeruk di Umbulsari Jember, Perkebunan kelapa Sawit di Kalimantan hingga perkebunan Apel di Malang.
            Selain untuk pertanian, Buharto yang kini dipercaya menjadi ketua kelompok tani Karya Tani 2 Desa Karang Melok ini juga berhasil menciptakan formulasi prebioti dan probiotik untuk pakan ternak. Hasil ciptanya kini dipakai di mana-mana. Mulai dari pebisnis tambak udang hingga pembudidaya lobster. “Saya juga punya produk namanya Yakult Sapi, ini untuk penggemukan,” jelasnya.
            Selain diterima di pasar lokal, formulasi organik karya Buharto juga menarik pelaku pertanian organik dari mancanegara. Agen hayati Bakteri merah miliknya kini sudah dipesan buyer dari Jepang. Bahkan dia mendapatkan pesanan lima ribu liter pupuk cair dari China, namun dia tak sanggup memenuhi karena terkendala alat produksi.
            Jika tak pernah belajar formal bahkan tak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan, kemudian dari mana Buharto bisa memiliki kemampun dan ilmu seperti itu? Pertanyaan itu pulalah yang tak mampu dijawab oleh Buharto. Segala ilmu yang dia miliki itu seakan datang begitu saja. Pemberian Tuhan yang tak melalui bangku sekolah maupun seminar-seminar.
             Karena merasa ilmunya adalah titipan dari Sang Kuasa, Buharto pun tak segan membagikannya. Sudah ribuan petani yang dia bina. Semua orang dia persilahkan datang ke tempatnya. Menimba ilmu secara gratis. Dia tak khawatir ilmunya akan dijiplak orang. Dia tetap yakin ilmu yang dibagikan tidak akan hilang. Tapi justru bertambah.
            Di era gerakan pertanian organik (botanik) yang kini digalakkan oleh Pemkab, Buharto bisa saja mengeruk keuntungan besar dari kemampuannya itu. Buharto bisa memilih hidup kaya raya. Apalagi, Pemkab menaruh perhatian besar terhadap kemampuannya. Berbagai bantuan bisa mengalir deras ke tempatnya. Apalagi kalau dia mau mengajukan. Namun justru ada beberapa bantuan yang dia tolak. Buharto memilih tetap hidup bersahaja. Berdaya dan bermartabat dengan kemandiriannya.
            Beberapa waktu silam, Buharto mendapatkan bantuan puluhan ekor sapi untuk dibudidayakan. Namun, sapi-sapi itu justru dia serahkan kepada orang-orang di sekitarnya. Buharto hanya meminta kotoran sapi-sapi itu dikumpulkan untuk diproses menjadi pupuk organik.
            Bagi Buharto, harmoni hidup harus tetap dipelihara. “Jadi petani harus berotak Jerman, berhati Mekkah, berkaki China, berjiwa Indonesia,” ujarnya filosofis. Berhati Jerman haruslah pintar dan bertekhnologi, tapi juga harus selalu berhati Mekkah yaitu ingat behwa segala kemampuan adalah pemberian sang Ilahi. Berkaki china harus selalu semangat dan bekerja keras  agar bermartabat tapi tetap berjiwa Indonesia yaitu sopan santun dan tak membanggakan diri.(*)


Jumat, 23 September 2011

Cinta 'Kaktus'

Di balik tajam duri-durinya, kaktus memiliki keindahan yang membuat Anang Ritarno jatuh cinta. 
                   
            Memasuki halaman rumah Anang yang tak seberapa lebar, udara segar langsung menyelinap ke pori-pori kulit. Nuansa hijau tampak di hampir setiap titik mata memandang. Di rumah dua lantai yang beralamat di Jalan Panjaitan II no 68 itu, puluhan jenis tanaman hias tersusun seperti natural, menyiratkan kecintaan Anang pada alam.
            Nuansa hijau juga masih terlihat di teras lantai atas rumah Anang. Di salah satu sudut teras tersebut, seonggok kaktus duri centong (Opuntia nigricans) tertancap segar dalam sebuah pot. Batangnya tegak bersirip, penuh duri, warnanya hijau tua dengan beberapa cabang yang mulai tumbuh.
Di sekitar Opuntia nigricans itu, ratusan jenis kaktus lainnya memenuhi hampir seluruh permukaan teras berukuran 3x1 meter itu. Beberapa jenis kaktus lainnya digantung dan dipajang di pagar teras. “Saya punya sekitar 300 jenis kaktus,” kata pria kelahiran Jember 8 Juli 1970 ini.
Anang tak hafal nama lokal berbagai jenis kaktus itu yang biasa dikenal masyarakat luas. Dia lebih mengenal nama latinnya. Untuk memudahkan mengingat, dia mencatat nama latin kaktus-kaktus itu dalam selembar kertas, kemudian kertas itu ditancapkan di masing-masing pot.
Sekitar 300 jenis kaktus itu dia kumpulkan sejak tiga tahun terakhir. Namun sejatinya, aktivitas mengoleksi kaktus sudah dia lakukan sejak masih usia SD. Bahkan ketika duduk di bangku SMA, koleksinya sudah mencapai 600 jenis kaktus. Sayangnya, pada tahun 1988 ketika rumahnya dibangun, tanaman kaktusnya terbengkalai serta banyak yang hilang dan mati.
Gairah untuk kembali mengoleksi tanaman berduri itu muncul dalam tiga tahun terakhir. Dia mulai berburu berbagai jenis kaktus langka ke berbagai toko bunga di Jember. Perburuan juga kerap dia lakukan hingga ke luar kota. Mammilaria compressa adalah salah satu jenis kaktus kesayangannya yang dia beli di Semarang. “Pernah saya cari ke Lembang, Bandung hingga ke Bogor,” ujarnya.
Tak semua kaktus diperoleh dengan susah-payah,. Keberuntungan bisa datang kapan dan di mana saja. Mendapatkan kaktus langka tak harus di toko-toko besar atau pun di luar kota. Kaktus langka bernama latin Astrophytum onzuka adalah koleksinya yang dia beli di penjual bunga keliling. Kaktus itu berbatang keras, bersirip lima dengan warna keputih-putihan serta bunga berwarna kuning.
Sayangnya, anakan kaktus yang baru dia beli beberapa bulan lalu itu tak bertahan hidup. Si eksotis Astrophytum onzuka kini telah mengering di potnya. Tentu Anang sangat menyayangkan itu. “Kaktus ini memang sulit merawatnya. Dia butuh suhu tinggi tapi di tempat yang teduh,” jelasnya.
Beberapa jenis kaktus yang dia koleksi memang jenis-jenis langka. Salah satunya adalah jenis golden barel (Echinocactus grusonii). Di pasaran, kaktus berbentuk bulat memanjang dengan duri-duri di sekujur batangnya ini dijual mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Kendati beberapa kaktus koleksinya memiliki nilai jual tinggi, namun hingga saat ini Anang tak pernah berniat menjualnya. Sekalipun banyak orang telah datang dan berniat membeli. Untuk beberapa kawan dekatnya, Anang lebih suka memberi anakan kaktus secara Cuma-cuma.
Cita-cita berbisnis kaktus memang telah muncul dalam benaknya. Namun dia mengaku masih terkendala dengan modal. Apalagi untuk jenis-jenis tertentu, harus didatangkan dari luar negeri. Sehingga, modal yang dibutuhkan pun sangat besar. Untuk saat ini, Anang sudah cukup senang dengan merawat kaktus-kaktus berduri kesayangannya itu. Dia menemukan kenikmatan saat memandang kaktus-kaktus itu setiap hari.
Ada banyak alasan kenapa Anang begitu menikmati keindahan kaktus. Secara tampilan, misalnya, banyak bentuk kaktus yang cukup eksotis. Seperti jenis-jenis dari Notocactus dan Mammillaria yang bentuknya bulat. Begitu juga dengan jenis Opuntia yang pipih, jenis-jenis Cereus yang berbentuk gada hingga kaktus penuh cabang dari jenis-jenis Euphorbia.
Selain bentuk, bunga kaktus juga memiliki keindahan dan warna yang sedap dipandang. Seperi bunga Copiapua lauil yang berwana ungu serta bunga dari Bocasana rubra yang berwarna merah. Meski begitu, butuh kesabaran ekstra untuk bisa melihat bunga kaktus. “Kalau dari anakan, kira-kira butuh satu tahun untuk bisa berbunga,” jelas Anang.
Duri kaktus juga menjadi keindahan yang membuat Anang kepincut untuk mengoleksinya. Di balik ancamannya yang mampu membuat kulit terluka, duri-duri kaktus menyimpan eksotisme tersendiri. Aneka jenis kaktus memiliki keunikan bentuk durinya.
Seperti duri dari jenis Mammillaria bocasana yang berbentuk kail pancing, duri Mammillaria elegans yang panjang seperti jarum serta Mammillaria albicans yang berbentuk bintang. Ada juga yang berbentuk panjang melengkung yaitu duri Denmosa albispinus serta Opuntia mikrodasis yang berduri banyak namun halus.
Namun begitu, meski memiliki banyak keindahan, kaktus tetaplah kaktus. Duri-durinya bisa melukai dan sebagian di antaranya juga dilengkapi racun. Rismunandar, penulis Bertanam Kaktus mengingatkan dalam bukunya, bahwa ‘cinta kaktus’ sulit untuk dimengerti oleh seorang awam. “Tanaman kaktus ingin disayang, namun tak ingin dipegang. Itulah namanya cinta kaktus,” tulisnya.
Dari berbagai alasan yang membuat Anang jatuh hati pada tanaman kaktus itu, ada satu alasan sederhana yang justru kian mendorong hasratnya mengoleksi tanaman khas gurun itu. Alasan itu adalah bagaimana konsep ecogreen atau berperilaku hijau bisa diterapkan di rumahnya yang memang tak memiliki halaman luas.
“Kalau saya menanam tanaman hias lain, mungkin butuh space yang luas. Tapi kalau kaktus, space diameter 10-20 Cm sudah bisa untuk satu jenis kaktus,” ujar aktivis lingkungan yang tergabung dalam Klub Indonesia Hijau (KIH) ini.
Kini, ratusan jenis kaktus memang telah memenuhi teras di lantai atas rumahnya. Namun keinginan Anang untuk terus berburu kaktus belumlah usai. Dari ribuan jenis kaktus yang belum dia koleksi, jenis-jenis dari Lophopora dan Astrophytum adalah yang paling menggodanya untuk segera memiliki.




Foto : Arimacs Wiliander

Sabtu, 28 Mei 2011

Nurhadi ‘Memed’

Apa bentuk syukur kita kepada Tuhan atas udara yang kita hirup, air yang kita teguk, jiwa yang selamat dari bencana serta kemurahan alam lainnya selain berbuat sesuatu untuk kelestarian alam?
           
Tentu, kehidupan menghadirkan banyak pilihan. Dari sekian banyak pilihan itu, Nurhadi telah memilih untuk bekerja dalam sunyi, di tandusnya gunung, di rusaknya rimba. Menyerahkan hidupnya sebagai abdi bagi keberlangsungan alam. Pakaian sederhana juga rambut dan cambangnya yang panjang kian menegaskan hidupnya yang menjauh dari kemapanan.
            Memed, begitu dia lebih dikenal. Di kalangan pecinta lingkungan, sering pula dia dipanggil Stres. Sementara sebagian lainnya memanggilnya Mbahe Argopuro. Tentu itu bukan panggilan ejekan. Tapi lebih kepada ungkapan sanjungan untuk menjelaskan betapa ‘gila’ dan luar biasanya Memed dalam menjaga kelestarian alam.
            Semua ke’gila’an Memed berawal ketika usianya masih 13 tahun, saat masih duduk di bangku kelas satu di SMP Prapanca, Jember. Di usia sebelia itu, kegelisahan akan kelestarian alam telah muncul dalam dirinya. Memed sudah memiliki kekhwatiran beberapa tumbuhan akan punah. Kekhawatiran yang terbukti kelak di masa depan.
            Kala itu, Memed kecil telah memilih hidup berbeda dengan anak-anak seusianya. Di saat yang lain masih senang bermain, dia lebih senang menanam dan merawat pohon di samping rumahnya. Tak butuh waktu lama, halaman rumah di Jalan Teratai itu telah penuh dengan aneka tumbuhan. Kedua orang tuanya, Alm. Suda’I dan Ipit Siti Indari sempat kahwatir dengan tingkahnya itu.
            “Keluarga saya kan keluarga montir otomotif. Jadi mereka kaget. Akhirnya saya hanya katakan pada mereka, saya takut terjadi kepunahan spesies,” kenang pria kelahiran 15 Mei 1973 ini. Penjelasan yang tentu tak sepenuhnya memaklumkan hati kedua orang tuanya itu. Namun Memed tak begeming. Di jalan terus.
            Seiring waktu, ketertarikannya kepada alam semakin menguat. Memed mulai sering keluar masuk hutan. Khususnya di lereng selatan pegunungan Argopuro. Saat itulah, kekhawatirannya terbukti. Banyak jenis pohon yang mulai langka. Salah satunya adalah bingkes, pohon dari jenis beringin. Penyebabnya sebagian besar karena ulah manusia. Penebangan liar membuat banyak pohon yang musnah.
            Melihat itu, hatinya bergemuruh. Memed marah. Dia merasa orang-orang tak mengerti betapa pentingnya pohon-pohon itu untuk menjaga ekosistem alam. “Pohon itu penting untuk ekologi. Pohon bisa menjaga kelembapan tanah. Sehingga ketersediaan air tetap terjaga,’” katanya.
            Memed hanya seorang lulusan SMP. Dia bukan seorang penguasa yang cukup tunjuk tangan agar niatnya terkabul. Dia pun bukan peneliti yang punya banyak teori tentang ekologi. Namun, atas kemarahannya itu, terucap ikrar dalam dirinya untuk berbuat. Melestarikan alam dengan apa yang dia bisa, dengan keringatnya sendiri kalau perlu.
            Sejak saat itu, Memed rajin membawa bibit tumbuhan dari hutan, kemudian dia tangkarkan di rumahnya. Setelah siap ditanam, bibit itu kemudian dia kembalikan ke habitatnya. Khususnya di daerah-daerah rawan longsor di lereng selatan Argopuro, seperti gunung Pasang, gunung Kerincing serta gunung Sawut.
            Untuk melakukan itu, Memed tak menunggu siapa-siapa. Tak harus ada seremoni atau peresmian. Tak perlu menunggu proyek bernilai rupiah dari pemerintah. Ditanamnya aneka bibit pohon hutan itu seorang diri. Tanpa bayaran. Dia memilih bekerja dalam sunyi. Baginya, menunggu uluran tangan orang lain hanya akan membuat suatu hal yang sederhana menjadi berbelit-belit.
             Demi menjalankan kegiatan konservasinya itu, Memed mencari rupiah dengan  serabutan. Sesekali dia membantu kawannya membuat kerajinan manik-manik. Kalau ada yang membangun rumah, dia bekerja sebagai kuli bangunan. Hasilnya, seringkali hanya cukup untuk ongkos angkutan ketika dia ingin pergi ke hutan.
            “Paling banyak saya bawa uang Rp 25 ribu. Biasanya untuk naik angkutan hingga ke Bunut, Panti,” ungkap pria yang sudah pernah mendaki hampir seluruh gunung di Jawa ini. Tak ada perbekalan makanan yang dia bawa. Saat di hutan, dia mengandalkan apa yang ada di alam.
            Alam memang telah menyediakan segalanya. Pernah Memed menghabiskan satu minggu di hutan. Ratusan pohon dia tanam. Meski tak ada perbekalan, Memed tak kelaparan. Rotan bakar dan umbud bakar cukup mengenyangkan baginya. Umbud adalah tanaman sejenis palm yang tumbuh di hutan, dan bisa dimakan daging batangnya. Untuk kebutuhan proteinnya, sesekali dia memancing ikan di sungai.
            Meski tak sekolah tinggi, namun Memed tak malas belajar. Dia tahu, menanam pohon di hutan juga ada aturannya. “Agar tak sesat,” katanya. Dari buku dan pengalamannya di hutan, Memed tahu bahwa pohon sapen hidup di ketinggian 1.200 mdpl. Sementara pohon kopi anjing di ketinggian 1.100 mdpl. Begitupun dengan pohon-pohon lainnya. Memed tak mau niat baik menanam di hutan justru malah merusak ekosistem.
            Tak terhitung sudah pohon yang dia tanam. Memed puas saat melihat pohon-pohon itu tumbuh. Meski, hatinya selalu terenyuh, saat melihat banyak hutan yang kian gundul. Bahkan, banyak kawasan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat hanya ditanami tanaman perdu, seperti kopi. Tak heran jika titik longsor kian banyak ditemukan.
            Suatu malam, dalam kesendirian di puncak gunung, Memed menangis. Melihat kerlip ribuan lampu di kota Jember, hatinya tercabik-cabik. “Apa para pemimpin tidak ada yang tahu atau pura-pura tak tahu dengan ancaman bencana,” serunya. Begitulah, saat di hutan, Memed justru tak pernah merasa damai. Dia selalu marah melihat alam yang rusak. Mungkin karena itulah, hingga kini dia tak pernah berhenti menanam.
            Beberapa kali, khususnya seusai banjir bandang Panti terjadi, kegiatan reboisasi memang lebih sering dilakukan pemerintah maupun LSM. Namun bagi Memed, reboisasi itu tak ubahnya menanam bencana kembali. Bagaimana tidak, pohon yang ditanam lebih berupa tanaman produksi, seperti sengon atau mahoni. “Pernah digalakkan menanam trembesi, tapi justru kenapa di pinggir jalan. Akhirnya hanya jadi komoditas politik,” keluhnya.
            Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan Memed barangkali kegiatan idealis yang berat atau mungkin tak masuk akal. Bahkan, ada yang pernah menyebutnya sok pahlawan. Namun sekali lagi, itu tak membuatnya berhenti. Malah membuatnya semakin ‘gila’ untuk menanam di hutan.
Kini, di usianya yang sudah 37 tahun, Memed tak berniat berhenti untuk menanam di hutan. Dia pun kini sering diikuti oleh para mahasiswa pecinta alam (PA) dalam kegiatan konservasinya. Meski, dalam hatinya sering bertanya-tanya, siapa yang akan meneruskannya kelak. Meneruskan program menanam pohon di hutan dengan tulus. Dia berharap, beberapa anak dari PA yang lebih pintar secara keilmuan dibandingkan dirinya, kelak akan mengikuti jejaknya.
Lamat-lamat, Memed menggugah kesadaran kita, “Hutan sudah memberikan bagitu banyak kepada kita. Udara yang kita hirup, air yang kita minum, lalu kita terlindungi dari bencana. Dengan apa kita berterima kasih?"


*****                                                                                                                                                          

Kamis, 26 Mei 2011

Ahmad Ato’illah dan Mimpinya

Terhadap Dusun Sumbercandik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Jember, Ato’illah telah jatuh cinta. Dia pun senantiasa merawat cinta dan mimpinya di sana.

           Tak mudah untuk tiba di dusun Sumbercandik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk. Jarak dari pusat kecamatan ke dusun ini saja cukup jauh. Sekitar 15 kilometer. Bukan hanya jaraknya yang jauh, medan jalannya pun cukup berat. Menanjak dan penuh batu.
Hampir separuh perjalanan akan melalui jalan aspal rusak dan makadam. Semakin ke atas, jalanan kian menantang. Ketika hujan turun, tanah kental khas pegunungan menambah licinnya jalanan. Jika mengendarai motor, rasa letih akan mendera karena sesekali pengendara harus turun dari motor agar tak terjatuh.
Namun sesampainya di dusun terpencil itu, rasa letih yang semula mendera seakan tuntas terbayar. Hamparan tanah hijau dan hawa sejuk langsung menyambut. Terletak di lereng pegunungan Argopuro, lahan pertanian warga di dusun itu berkontur terasering. Menambah eloknya pemandangan.
 Barangkali segala keindahan itulah yang membuat Ahmad Ato’illah tergila-gila terhadap tempat itu. Baginya, Dusun Sumbercandik adalah salah satu aset berharga yang dimiliki Jember. Karena selain keindahan alamnya, serpihan-serpihan sejarah masa lalu banyak tercecer di sini.
“Bisa jadi, usia Sumbercandik ini jauh lebih tua dibanding dengan Jember sendiri,” kata pria yang sebagian rambutnya telah memutih ini. Di kawasan ini, banyak tersimpan situs-situs peninggalan jaman purba. Seperti situs batu kenong, situs klanceng, situs duplang, hingga Alas Pekarangan. Bahkan, “Ada pemakaman kuno dan banyak ditemukan manik-manik juga,” katanya. Ato’illah kian yakin jika kawasan ini adalah kekayaan Jember yang harus dijaga. Dia pun merasa harus berbuat untuk itu.
Saat pertama kali masuk ke kawasan ini sekitar tahun 2000 silam, hati Ato’illah terenyuh. Hati pria kelahiran Jember, 7 Agustus 1968 ini seakan bergejolak melihat masyarakat yang belum sadar dengan potensi alamnya. Bahkan sebagian dari mereka masih gemar menebang kayu di hutan. Bisa jadi, perbuatan kurang terpuji itu karena pengetahuan dan kesadaran pendidikan mereka yang rendah.
Di dusun ini, tingkat pendidikan masyarakat bisa dikata memperihatinkan. Jangankan yang sudah berumur, yang muda-muda sekali pun jarang mengenyam pendidikan. Bahkan untuk mencari seorang lulusan sekolah setingkat SMP untuk dijadikan kepala dusun saja tidak ada. “Jadi sampai sekarang di sana belum ada kepala dusunnya,“ kata Mulyono, Camat Jelbuk.
Hampir tidak ada akses pendidikan formal di dusun ini pada waktu itu. Untuk sekolah setingkat TK saja, jaraknya bisa belasan kilometer. Apalagi untuk sekolah setingkat SMP atau SMA, harus ke pusat kecamatan Jelbuk. ‘’Selain jauh untuk turun, jalannya rusak. Sehingga tidak ada yang sekolah,’’ kata Misran, salah seorang tokoh warga di dusun Sumbercandik. ‘’Apalagi di sini jarang yang punya kendaraan,’’ imbuhnya.
Pelan-pelan Ato’illah mulai berbuat. Dia mulai berbaur dengan masyarakat sekitar. Namun dengan hanya seorang diri, tentu itu menjadi tantangan yang cukup berat. Karena bukan hal yang mudah untuk mengentaskan orang dari kebiasaannya. Dia pun melakukan sesuatu, yang oleh sebagian teman-temannya waktu itu bahkan dianggap gila dan tak wajar.
Dengan membawa sebuah map, dia mendatangi orang-orang ternama di Jember, mulai dari akademisi, agamawan, pengusaha, hingga politisi. Dia mempresentasikan pentingnya pendidikan di kawasan tersebut. “Saya tidak meminta dana, saya hanya meminta dukungan mereka dalam bentuk tanda tangan,“ jelasnya. Ato’illah berharap, dengan seperti itu, orang-orang itu tahu bahwa harus ada yang diperbuat untuk menjaga kawasan itu.
Di sisi lain, dia terus membagikan ilmu pengetahun kepada anak-anak kecil di salah satu rumah warga. “Awalnya di rumah pak Tin (Misran),“ kenangnya. Itu dia lakukan hingga beberapa tahun kemudian. Keakraban dengan warga pun mulai terjalin. Hingga seiring berjalannya waktu, simpati terhadap apa yang dilakukan oleh Ato’illah berdatangan.
Hingga suatu ketika, dia mendapatkan sumbangan dana dari para dermawan untuk membeli sebuah lahan di salah satu sudut dusun. Di lahan itulah, kelak Ato’illah menjadikannya sebagai pusat pendidikan bagi anak-anak dusun.
Hingga pada awal tahun 2009 silam, sebuah lembaga pendidikan berdiri di lahan itu. Ato’illah menamakannya Taman Pembelajaran Bumi Sulaiman Daud. Inspirasi nama itu diambil dari dua nama nabi dalam islam yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman yang dikenal akrab dengan alam. Hal itu tak lepas dari misi Ato’illah dalam kegiatan konservasi alam melalui jalur pendidikan.
Kegiatan belajar mengajar di lembaga ini pun berbeda dengan pakem pendidikan formal. Tak ada kurikulum, tak ada nilai, tak ada raport dan bahkan tak ada ijazah. Di lembaga ini, skil para siswa menjadi satu-satunya yang digenjot. Mereka yang cinta melukis maka akan didorong melukis. Begitu juga mereka yang cinta bercocok tanam atau pun berdagang.
Pelajaran-pelajaran umum, seperti pelajaran bahasa memang juga masih diajarkan. Namun itu bukan hal yang utama. “Tujuan belajar bahasa kan agar mereka bisa menyampaikan pesan dengan baik. Bukan untuk menjadi ahli bahasa,“ katanya. Yang penting baginya, apa yang diajarkan di lembaga itu tidak bertentangan dengan khasanah lokalitas masyarakat setempat.  
Setelah lembaga itu berdiri, Ato’illah semakin intens untuk mengawal pendidikan di dusun itu. Apalagi, dia merasakan banyak pelajaran yang di dapat dari alam dan orang-orang di sana. Orang-orang yang senantiasa mampu menikmati hidup dalam keterbatasan. Hingga seringkali dia tidak pulang ke rumahnya di Jalan Tawangmangu, Sumbersari.  Dia lebih memilih menginap di kampung terpencil itu. Memilih jauh dari keluarganya.
 “Pernah tiga hari tidak pulang ke rumah,“ kata Nurul Farida, istri Ato’illah. Namun farida tahu, apa yang dilakukan suami tercintanya sebuah hal bermanfaat. Farida yakin, suaminya memiliki mimpi mulia untuk diperjuangkan. “Saya sih selalu mendukung,“ kata perempuan berjilbab yang juga seorang guru ini.
Ato’illah pun senantiasa total dalam pengabdiannya itu. Dia tak peduli berapa pun kocek pribadi yang harus dikeluarkan dari kantongnya. Apalagi, hingga saat ini, tak sedikit pun para siswa di sekolah itu ditarik bayaran. Hingga dia pun harus berusaha terus menghidupi lembaga itu. Selain gratis, para siswa di sana bahkan mendapatkan baju dan buku-buku pelajaran secara gratis.
Namun begitu, sering pula Ato’illah kelimpungan kala harus memberi uang transport pada tenaga-tenaga pengajar di lembaga itu. Meski status mereka mengabdi kepada masyarakat, namun Ato’illah senantiasa mencarikan mereka uang saku. Apalagi, sejumlah tenaga pengajar ini jauh-jauh datang dari Jember.
Ato’illah enggan untuk menyebut pemberian kepada guru-guru itu sebagai gaji. ‘’Kalau disebut gaji tidak pantas lah, karena terlalu kecil,’’ kata ayah dari empat orang putra ini. ‘’Dua tahun mereka bertahan mengajar di tempat terpencil seperti itu sudah hal yang luar biasa,’’ sambungnya.
Kini, setelah dua tahun berjalan lembaga itu berdiri, ada keberhasilan-keberhasilan yang sudah dicapai. Sebagian dari mereka yang pernah mengenyam pendidikan di lembaga itu sudah melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. ‘’Sudah banyak yang melanjutkan juga,’’ kata Misran, yang tokoh masyarakat.
Setelah dua tahun berjalan itu juga, ternyata ganjalan belum sepenuhnya usai. Beberapa waktu lalu, dua tenaga pengajar yang selama ini membantu Ato’illah ternyata mengundurkan diri. Dia pun kini lebih sibuk karena harus memberikan pendidikan seorang diri. Untunglah, beberapa kawan di Jember yang peduli terhadap pendidikan bersedia membantunya. “Rencana bersama dengan teman-teman kita bikin jadwal piket mengajar,“ ungkap lulusan tahun 1990 fakultas pertanian Unej ini.
Meski benih-benih keberhasilan itu sudah terlihat, namun Ato’illah sadar, banyak tantangan yang masih harus dilalui. Misalnya bagaimana kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan kian ditumbuhkan. Masyarakt harus tahu tentang potensi diri dan lingkungan mereka yang luar biasa itu.
Apa yang dilakukan Ato’illah itu demi sebuah mimpinya. Bahwa suatu saat kelak, dusun indah itu akan menjadi salah satu kawasan wisata membanggakan milik Jember. Dan masyarakat di sana bukan hanya sebatas objek, tapi sekaligus subjek. “Mereka tidak terasing di tanahnya sendiri,” harapnya.
Hingga kini, Ato’illah senantiasa merawat dan memperjuangkan mimpinya itu. Terlepas terwujud atau tidak, itu tidak lagi penting baginya. “Keberhasilan atau kegagalan itu bukan tujuan. Tapi bahwa kita telah berbuat, kita telah melakukan, itulah tanggung jawab kita,“ tegasnya. Baginya, sebagai manusia, bermanfaat bagi manusia lainnya merupakan salah satu bentuk tanggung jawab.

Sabtu, 23 April 2011

Yuke Yuliantaries, Bawa Batik Tembus Internasional

Perubahan bisa datang dari mana saja. Bahkan dari desa sekalipun. Dari desa pulalah, Yuke membangun bisnis batiknya hingga merambah pasar luar negeri. Kini, di usianya yang masih muda, dia menjadi pengusaha batik tersukses yang dimiliki Bondowoso.

Sebagian aspal di gang menuju rumah Yuke di Desa Sumbersari, Maesan, Bondowoso itu telah mengelupas. Tinggal tonjolan-tonjolan batu yang menyeruak ke permukaan. Tepat di samping timur lapangan sepakbola Sumbersari yang sepi itu, rumah Yuke berdiri. Sederhana dan damai. Dilingkupi rindang pepohonan mangga.
Jumat sore (15/4), gerimis tipis turun pelan-pelan. Aroma pewarna dan malan langsung terendus saat memasuki salah satu ruang pewarnaan di rumah Yuke. Di ruang itu, beberapa pria sibuk mewarnai berlembar-lembar kain dengan berbagai motif batik. Dari ruang sederhana ini pulalah, tercipta lembaran-lemabaran kain batik yang selanjutnya dipakai orang-orang ternama.
Selembar kain batik yang sudah selesai diwarnai itu langsung menyita perhatian. Berbahan sutera, kain itu didominasi warna biru dengan guratan-guratan putih. Motif utamanya adalah Lembu Swana, seekor kuda bersayap mirip Pegasus, namun berkaki burung dengan hidung menjuntai layakanya belalai gajah. Di kain itu tergambar pula motif Gigi Balang, ranting penuh daun yang menjulur serupa pakis.
Motif Lembu Swana, hewan mitologi dari masyarakat Kalimantan Timur serta Gigi Balang itu begitu anggun tergambar. Siapa sangka, kain batik itu nantinya akan dikenakan orang penting di Indonesia. “Itu pesanan untuk pak SBY,” kata Yuke. Rencananya, orang nomor wahid di Indonesia itu akan mengenakan batik garapan Yuke pada Penas KTNA XIII pada medio Juni mendatang di Kalimantan Timur.
Selain SBY, beberapa orang ternama di negeri ini sudah pernah memakai batik bikinan Yuke. Sebut saja Aburizal Bakri, Akbar Tanjung hingga mantan wapres Yusuf Kalla. Beberapa menteri yang duduk di pemerintahan pun pernah menggunakan batik hasil produksinya. Bagi Yuke, itu sebuah pencapaian tersendiri yang tentu tak dimiliki semua orang.
Sudah pasti, tak mudah untuk meraih segala pencapaian itu. Jalan yang dia tempuh penuh liku dan panjang. Semuanya bermula dari tahun 2000, saat dia memegang penuh kendali perusahaan Batik Tulis Sumbersari. Ketekunan dan strategi bisnis jitulah yang mengantarkan Yuke meraih itu semua.
Batik Tulis Sumbersari sendiri sejatinya sudah berdiri sejak tahun 1985. Kala itu, tante Yuke, Lilik Soewondo memegang kendali perusahaan. Beranggotakan perempuan-perempuan di karang taruna, lilik memimpin hingga sekitar tahun 1997. Saat krisis moneter menyergap kala itu, aktifitas membatik sempat kolaps. Beberapa orderan yang masih seadanya pun terputus.
Tahun 1999, aktivitas membatik dimulai lagi. Pengelolaan memang masih dilakukan oleh Lilik. Namun pelan-pelan, Yuke mulai terlibat di dalamnya. Yuke mulai menawarkan konsep desain dan motif. Penggunaan bahan mulai diatur. Manajemen pun dibenahi. “Pemasaran juga mulai kita pikirkan,” kata putra dari pasangan Didik Astiawan dan Sri Umiati ini.
Saat memulai kembali usaha batik itu, Yuke telah belajar banyak atas kekurangan-kekurangan yang terjadi di masa lalu. Tumbuh dan besar di lingkungan batik, menjadi bekal baginya untuk membenahi kekurangan-kekurangan itu. Salah satu konsernya adalah bagaimana mengangkat citra batik tulis.
Tahun 2000, saat dia dipercaya memimpin langsung perusahaan keluarga tersebut, dia melakukan langkah yang terbilang ekstrem. Dia melakukan penyegaran di tubuh manajemen. Bahkan bagian desain dan motif  yang sebelumnya diisi ayahnya, waktu itu diberikan kepada adiknya, Ifriko Desriandi.
”Saya ingin semua baru. Image lama harus dirubah dengan yang baru,” kata suami dari Weny Wulandari ini. Tak ada penolakan dengan apa yang dilakukan Yuke. Bahkan keluarganya setuju. Dengan perubahan itu, dia berharap citra batik yang ala kadarnya menjadi karya spesial yang bisa diterima pasar secara luas. Memperkaya motif dan meningkatkan kualitas menjadi jalan yang dia tempuh.
Terobosan penting lainnya adalah bagaimana Yuke merubah target pasar. Sebelumnya, pasar batiknya hanya untuk kalangan menengah ke bawah. “Waktu itu, kita mulai menarget di pasar top level. Karena kalau produk menengah ke bawah kita sulit berkembang,” kenangnya. Jika sebelumnya hanya menggunakan kain katun kelas dua, Yuke mulai menggunakan katun kelas satu sebagai bahan baku utama. Selain itu, penggunaan kain sutera mulai diterapkan.
Strategi yang dia pilih itu mulai membuahkan hasil. Industri batiknya melesat tajam. Dengan kualitas yang terus dijaga, pesanan dari orang-orang penting mulai berdatangan. Beberapa kepala daerah di Tapalkuda mulai mengenakan batik garapannya. Seiring dengan itu, batik garapannya semakin dikenal di masyarakat luas.
Perlahan-lahan, pasar batiknya mulai meluas. Tak hanya individu, banyak instansi yang memesan batik untuk dijadikan seragam khas. Omsetnya pun mulai melambung. Yuke mulai mencecap manis dari jerih payahnya. Hingga pada tahun 2003, pasarnya tak lagi nasional, tapi merambah ke luar negeri.
Pada tahun ketiganya itu, dia mulai menggarap pasar Asia Tenggara. Melalui koleganya, dia mulai menjual batik garapannya ke Filipina, singapura dan Negara-negara ASEAN lainnya. Selanjutnya, tahun 2004, pasarnya sudah merambah ke Eropa, seperti belanda, perancis, hingga Brazil dan Amerika.
Tak berhenti di situ, sudah satu tahun terakhir ini dia mulai lebih serius untuk menggarap pasar permanen di luar negeri. Rencananya, bersama dengan seorang turis yang pernah datang ke rumahnya, dia akan membuka sebuah outlet batik di Finlandia. Pasar nasional memang masih menjadi prioritasnya. Namun demi menjaga citra dan nilai jual, pasar luar negeri terus dia garap.
Di atas pencapaian yang sudah direngkuh, Yuke mengalami juga bahwa setiap kesuksesan tak pernah bisa dicapai dengan mudah. Bahkan saat bisnisnya melaju pesat, Yuke juga merasakan betapa batu terjal terus mengintai. Dia menganggap itu sebuah tantangan.
Tahun 2009, misalnya. Saat Unesco memutuskan bahwa batik sebagai warisan dunia dari Indonesia, apresiasi terhadap batik bak roller coaster yang tengah menanjak. Industri batik muncul di mana-mana. Batik Tulis Sumbersari yang semula pemain tunggal, kala itu telah memiliki banyak penantang. Baik di Bondowoso maupun di Jember. Sempat pula, omsetnya turun hingga 30 persen.
Namun Yuke tak berdiam diri. Yuke memantapkan dirinya sebagai petarung yang tak akan berdiam diri diterjang keadaan. Serupa cambuk bagi seekor kuda yang menarik kereta, Yuke berlari lebih kencang. Bukan dengan mengagregasi pasar pesaing, Yuke lebih konsern untuk terus meningkatkan kualitas garapannya.
Hal itu terbukti manjur, pasar yang semula hilang perlahan-lahan mulai kembali. Dari situlah, Yuke kian yakin bahwa batik adalah persoalan kualitas. “Memang dua-tiga bulan mereka (konsumen) membeli ke produsen lain. Tapi setelah itu balik lagi ke kita,” ujarnya.

Majukan Potensi Dua Daerah

Secara geografis, lokasi Batik Tulis Sumbersari terletak di Kabupaten Bondowoso. Namun industri batik ini juga memiliki ikatan erat dengan Kabupaten Jember. Sempat terjadi tarik menarik antara kedua daerah untuk menjadikan industri batik ini sebagai binaannya. Namun Yuke memilih untuk sama-sama mengembangkan potensi dua daerah tersebut, melalui motif-motif pada batiknya.
Salah satu motif batik andalan Yuke adalah motif daun ketela. Saat ini, motif ini telah menjadi ikon dari Bondowoso. Diangkatnya motif ketela dalam produksinya ini tak lepas dari kecintaannya terhadap tanah kelahirannya. Sebagai putra daerah, pria kelahiran 8 Juli 1976 ini merasa harus ada yang diperbuat untuk daerahnya.
            Meski memiliki sejarah membatik, namun hampir tak ada catatan terkait pola desain dan motif dari batik asli Bondowoso. Apalagi pada masa lalu, aktivitas membatik di Bondowoso hanya dilakukan oleh perorangan. Belum dalam bentuk industri seperti saat ini. Hal itulah yang membuat catatan akan batik di Bondowoso hampir tak ada.
            Motif daun ketela, yang saat ini menjadi ikon Bondowoso sebenarnya sudah ada sejak Lilik Soewondo, bibinya membatik. Motif inilah yang kemudian terus dikembangkan sehingga akhirnya menjadi kekhasan Bondowoso. Cukup tepat memang, itu bila dikaitkan dengan daerah ini yang menjadi salah satu penghasil ketela pohon.
            Meski kalah bersaing dengan motif-motif lainnya, seperti motif tembakau, Yuke terus konsisten mengembangkan motif ketela. Di pasaran, motif ketela memang tidak selaris motif tembakau. Jika dipersentasekan, penjulaan batik motif ketela ini hanya 10 persen. Jauh di bawah motif tembakau mendominasi penjualan hingga 60 persen. Sisanya adalah motif-motif kontemporer lainnya.
            Meski persentase penjualan tak sebesar motif-motif lainnya, hingga saat ini, Yuke terus memproduksi motif ketela ini. Tak hanya itu, dia terus memperkenalkan motif ini saat berkesempatan mengikuti expo di luar kota, misalnya. Beberapa varian dari motif ketela juga terus dia kembangkan.
            Bentuk kecintaan lain terhadap tanah kelahirannya adalah dengan menciptakan motif-motif yang sangat kental dengan nuansa Bondowoso. Salah satunya adalah motif Singo Wulung serta motif aduan sapi, dua kesenian asli Bondowoso. “Meski masih sebatas by order,” kata ayah dari Muhammad Gavyn ini.
            Selain kepada tanah kelahirannya, Bondowoso, Yuke memiliki kedekatan tersendiri terhadap Jember. Di kota inilah, Yuke menghabiskan sebagian hidupnya dengan menimba ilmu di Unej Jember. Lulusan Administrasi Negara FISIP tahun 2000 ini juga memiliki jaringan luas, utamanya di bidang bisnis di Jember.
            Lebih dari itu, perhatian pemerintah Jember terhadap pengembangan batik yang dia lakukan juga cukup besar. Beberapa kali Yuke mendapatkan kesempatan untuk menampikan dan memasarkan karyanya saat pemeran-pameran yang sering dilakukan di Jember. Tak terhitung pula pejabat pemerintahan di Jember yang menggunakan batik produksinya.
            Semua itu tak lepas dari motif tembakau yang juga dia kembangkan. Berbicara tembakau memang tak lepas dari Jember. Daerah ini menjadi salah satu penghasil tembakau terbesar di Jember. Sebagian masyarakat di Jember juga hidup dari ‘daun emas’ itu. Tak pelak, batik dengan motif tembakau begitu mudah diterima pasar.
            Dengan sentuhan rasa dan kualitas yang terus dia jaga, kedua motif tersebut terus menjadi andalannya. Dia membawa motif tembakau dan ketela ke beberapa pagelaran bergengsi di tingkat nasional. Salah satunya adalah ketika batik hasil produksinya digunakan oleh desainer Barli Asmara untuk beberapa model ternama seperti Atalarik Syah beberapa waktu lalu di Jakarta.
            Baginya, kedua motif batik itu sama-sama memiliki keindahan dan kekuatan masing-masing. Untuk itulah, harus ada yang terus memperkenalkan kedua motif yang telah menjadi ikon itu hingga kian dikenal di tingkat nasional. Pada titik inilah, dia memilih untuk memajukan dua daerah yang dia cintai melalui motif pada batik produksinya

“Batik Adalah Hidup Saya”

Bukan sebatas persoalan mengejar materi, batik sudah menjadi media bagi Yuke untuk berbuat sesuatu bagi lingkungannya. Melalui batik, Yuke berhasil membuka lapangan pekerjaan yang layak bagi masyarakat di sekitarnya. Kini, sebanyak 50 pekerja menggantungkan hidupnya dari industi Batik Tulis Sumbersari yang dia pimpin.
Persoalan materi bukan lagi hal yang menjadi permasalah bagi Yuke. Batik telah memberikan penghidupan yang layak baginya. Apalagi, batik yang dia garap bukan batik kelas bawah. Dengan kualitas sebagai jualan utamanya, harga batik garapannya mencapai jutaan rupiah.
Untuk yang paling murah saja, misalnya, harganya berkisar Rp 400 ribu. Sementara untuk batik berbahan sutera, Yuke bias menjual hingga Rp 6 juta per lembarnya. Dengan harga melangit seperti itu, mengumpulkan rupiah bukan lagi persoalan baginya.
Tentu Yuke cukup puas dengan hal itu. Namun yang terpenting baginya, melalui industri batik yang digeluti, dia bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Setidaknya, dia bisa membuka lapangan pekerjaan bagi mereka.
Kendati sudah memiliki banyak pekerja, Yuke tidak mau menghabiskan kesehariannya hanya dengan berleha-leha. Meski waktunya banyak disibukkan dengan terus membuka pasar baru, dia tak mau lepas sepenuhnya dari persoalan teknis.
Bersama dengan adiknya, Ifriko Desriandi, dia memonitor langsung setiap helai batik yang diselesaikan para pekerjanya. Bahkan, dia masih mau menyentuh malan atau pewarna batik demi menjaga kualitas batiknya. Yuke tak ingin hanya karena lupa kontrol, batik yang diproduksi turun kualitasnya. Dalam persoalan kualitas, Yuke begitu perfect. 
Selain terus membesarkan usahanya, Yuke yang hidup dari batik, juga berupaya menghidupi batik. Salah satunya dengan membagikan ilmu batiknya kepada generasi-generasi muda. Dengan seperti, diharapkan semakin banyak generasi muda yang mencintai dan terus menjaga salah satu warisan budaya dunia ini.
Untuk itulah, seringkali dia diminta untuk mengajarkan proses-proses membatik di beberapa sekolah. Yuke melakukan itu dengan sukarela, tanpa memikirkan atau mengharap honor dari itu.
          Kecintaannya terhadap batik yang begitu besar, membuat waktunya seakan habis hanya untuk urusan batik. Memikirkan motif baru, menjaga kualitas hingga membuka pasar baru menjadi kesehariannya. Yuke bahagia menjalani itu semua. “Batik telah menjadi hidup saya,” pungkasnya


Foto by Heru Putranto

Jumat, 22 April 2011

Dari Madura Untuk Dunia

Selama ini, kesenian tradisional etnik Madura, khususnya gubahan lagu maupun kidung-kidungnya seringkali termarginalkan karena dianggap kurang kompetitif. Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan untuk sejenak singgah di kelompok kesenian Kebun Sanggar Bermain (KSB), di Mumbulsari Jember. Kelompok ini bertekad mengangkat kidung-kidung tradisional etnik Madura hingga bisa tembus pasar internasional.

Cong koncong konce
koncenah lo oloan.
Sabanyung saketeng
gig enggighen taoh bajang.


Sebagian dari kita, khususnya yang berasal dari etnik madura bisa dipastikan tidak akan asing dengan lirik tersebut. Lirik kidung yang akan langsung mengingatkan kepada masa kanak-kanak dimana kidung tersebut seringkali dinyanyikan dalam sebuah permainan.

Selama ini, kidung tersebut memang hanya menjadi kidung yang mengiringi permainan anak-anak kecil dari etnik Madura. Jarang sekali atau bahkan tak pernah ditemukan kidung tersebut dipentaskan dalam sebuah pertunjukan seni musik. Apalagi mendengar kidung tersebut menembus pasar industri musik, baik nasional, apalagi internasional.

Ketermarginalan kidung-kidung etnik Madura inilah yang tampaknya menggugah sekelompok seniman yang tergabung dalam Kebun Sanggar Bermain (KSB) yang bermarkas di wilayah Kecamatan Mumbulsari, Jember untuk membuatnya bisa lebih kompetitif.

Terhadap kidung-kidung dari etnik Madura, berbagai pengembangan dilakukan oleh kelompok ini. Mulai dari mengaransemen lagi nada kidung, hingga mengolaborasikannya dengan aneka alat musik dari berbagai etnik lain di Indonesia.

Kegigihan dalam mengangkat kidung-kidung etnik Madura tersebut sejatinya telah dilakukan KSB sejak sekitar tahun 1991 silam. Meskipun harus berhadapan dengan berbagai kedala, seperti minimnya apresiasi terhadap perjuangan mengangkat kesenian tradisional ini. Namun, hal tersebut tidak lantas menyurutkan tekad dan kegigihan KSB.

O’onk Fathurrahman, pengasuh KSB, mengatakan bahwa tekad untuk mengangkat kidung-kidung tradisional Madura tersebut, mengingat mayoritas masyarakat di daerahnya (Jember) adalah etnik Madura. Khususnya mereka yang berada di pinggiran, pelosok pedesaan maupun di daerah perkebunan.

Di mata seniman yang lama berkesenian di Benkel Teater Rendra, kidung-kidung tradisional etnik Madura sanagat kental dengan nilai estetika yang cukup tinggi. Didalamnya juga bernuansa magis dan sufistik. “Kandungan filsafatnya juga sangat tinggi sekali,” tutur pria yang akrab disapa Gus O’onk ini.

Dia pun menyontohkan salah satu lirik kidung;
pak o pak eleng
elengah sangkoranji
pak tarma maling
anak tambeng tak taoh ngajih.


Dalam lirik tersebut, menurutnya berisi pelajaran hidup yang sangat mulia. Tentang bagaimana seorang manusia untuk tidak meninggalkan kewajaran hidup. Tentang ketuhanan, serta tentang bagaimana harmoni tingkah seorang bapak dan laku seorang anak.

Kendati begitu, seniman yang menjadi salah satu sahabat WS. Rendra ini menyayangkan ketika kidung-kidung ini semakin termarginalkan. Hal itu terjadi karena menurutnya kidung-kidung etnik Madura secara penyajian kurang kompetitif. Apalagi selama ini penyajiannya masih bersifat lokal dan sangat tradisional.

Berangkat dari sanalah, dia mulai meracik kidung-kidung tersebut dalam bentuk perkusion seksion. Dengan menggunakan alat-alat musik dari etnik lain, seperti jimbe, bedug, serta gitar, perlahan-lahan, bersama komunitasnya, dia mulai sering menampilkan kemasan kidung etnik Madura racikannya di depan umum.

Dalam perjalanannya, penyajian kidung etnik dari perkusion seksion KSB ini semakin matang secara musikalitas. Hal itu seiring kedatangan Budi Sadewo, seorang music director yang biasa menangani pementasan seni Bengkel Teater Rendra. Kedatangan Dewo, begitu pria ini akrab dipanggil, telah memberikan warna tersendiri bagi KSB.

Berbagai unsur bunyi-bunyian diselipkan dalam racikan sebuah kidung yang dimainkan. Dewo juga memadukan racikan perkusion seksion yang dirintis Gus O’onk dengan berbagai alat-alat musik khas daerah lain. Seperti kecapi khas Sunda, ginggong dari Irian, sitter Jawa, serunai Padang, hingga Ocarina dari Kenya. “Jadi unsur bunyi-bunyiannya lebih kaya,” kata Dewo, musisi yang acapkali mengiringi pementasan puisi WS Rendra ini.

Kendati menggabungkan kidung etnik Madura dengan berbagai alat musik dari daerah lain, namun Dewo tidak merubah ciri dan kekhasannnya. Modifikasi yang dilakukan serta berbagai jenis alat musik yang dikolaborasikan, tidak sampai mengalahkan corak khas kidung etnik Madura.

Keberanian Dewo dalam memodifikasi dan memasukkan unsur-unsur musik baru dalam perkusion seksion asuhan Gus O’onk tersebut bukannya tanpa alasan. Menurut dia, dalam seni musik, tidak ada yang namanya sekat-sekat budaya. Semuanya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam seni bernama musik.

Keputusan Dewo untuk turut serta mengembangkan kidung tradisional etnik Madura dilandasi betapa kuatnya ruh yang terdapat dalam kidung-kidung etnik Madura. Dia melihat dinamika yang begitu kental. Selain itu, ada sejarah dalam kidung-kidung tersebut yang akan membangkit kenangan masa lalu

Mendengar kidung pak o pak eleng, atau rak terak bulan, maupun cong koncong konce, mereka yang berasal dari etnik Madura akan langsung teringat tentang masa kecilnya. Tentang keasikan bermain bersama bulir-bulir cahaya bulan yang berkeriap pada malam pekat.

Dewo optimis, kidung tradisional khas etnik Madura akan mempu bersaing di pasar industri musik. Bertarung dengan segala jenis musik kontemporer yang kian lama kian nyaring memekakkan telinga. Apalagi jika kidung-kidung tersebut diberi kesempatan yang lebih luas untuk sering tampil menunjukkan ruhnya. “Saya yakin akan mendapat apresiasi luas. Asal mendapat tempat dan kesempatan,” imbuhnya.

Memang, ditangan Gus O’onk bersama KSB-nya, serta didukung oleh tekhnik musikalitas yang cukup tinggi dari Dewo, kidung-kidung khas etnik Madura yang mereka mainkan terdengar bisa lebih layak jual serta terasa lebih kompetitif.

Seperti dalam sebuah tembang berjudul cong koncong konce, misalnya. Lantunan cong koncong konce dibuat lebih ngebeat. Dipadukan dengan jeritan kematian khas orang Madura yang menyayat telinga, sahutan-sahutan pantun, tetabuhan jimbe yang lembut namun sesekali menghentak, serta petikan kecapi Dewo, membuat tembang ini begitu nyaman untuk dinikmati.

Racikan-racikan tembang seperti itulah yang diharapkan bisa menembus pasar internasional. Namun tidak muluk-muluk, pasar Asia adalah target awal. Saat ini mereka tengah mempersiapkan diri untuk tampil di kedubes Indonesia di Prancis dan Amerika. “Untuk launching racikan terbaru ini akan dilangsungkan di Unesa,” kata Gus O’onk.

foto by Heru Putranto