Senin, 25 April 2011

Riwayatmu Kini

“Musim kemarau tak seberapa airmu
di musim hujan air meluap sampai jauh”
*

Di tanah airmu, air mengalir di tanahmu. Menderas, jauh dari hulu dalam dirimu.
Kemudian bermuara dalam sebuah abad. Yang tak akan pernah sanggup menampung,
harmoni yang tak akan pernah rampung.

Musim tiba-tiba berhenti, riak sungai pun usai

Melihat abad di belakangmu, renta lapar dan tubuh sabarmu melepuh. Letih kemudian
pudar. Di bawah kibar langit, engkau telah bersetia menunggu kabar. Pertemuan terbesar,
saat-saat paling akbar; pusar kehidupan.

Ooo, aku hanyut dalam irama tembangmu

Di lingkar abad ini, salamku kepada semesta, tuhan menyaksikan; renggutlah tubuh yang
menyusunku, dan waktu yang mencatatku. Tapi setidaknya, pejuang itu, buatkan makam
di kerut jidatku, dan di garis tanganku, epitafnya tertanam.

Selamat jalan Gesang

* Salah satu bait lirik "Bengawan Solo" karya Gesang
Foto: dakdem.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar